Pendukung calon pasangan rela datang dari jauh dan mengeluarkan uang untuk membuktikan kesetiaannya.

Kaos biru muda I Gede Aditya Sukantra basah kuyup oleh keringat saat pemain berusia 27 tahun itu meninggalkan Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, Sabtu (2 Oktober 2024) sore.

Kaos berkerah dengan badge di kanan depan bertuliskan “Semeton Prabowo” bermandikan keringat yang tidak hanya mengalir di punggung, tetapi juga menetes di dahi dan leher. Wajah pria asal Lampung itu tampak kusam, namun senyuman tetap tersungging di bibirnya.

Saya Senang Bisa Ikut Kampanye Besar Prabowo-Gibran di Jakarta. Tadinya sempat beredar rumor akan ada pertarungan antara JIS (Jakarta International Stadium) dan GBK (Gelora Bung Karno), namun ternyata animo masyarakat di sini luar biasa, kata Aditya.

Anggota komunitas Prabowo di Semeto melintasi Selat Sunda untuk mengikuti kampanye penting terakhir sebelum kedatangan calon presiden (capres) dan wakil presiden (cawarres) Prabowo Subianto-Gibra Rakabuming Raka. keheningan menjelang hari pemilu pada pemilu parlemen 2024 pada 14 Februari.

Sejak Jumat (2/9/2024), ia dan dua anggota Semeton Prabowo lainnya menempuh perjalanan delapan jam perjalanan dari Kabupaten Way Kanan, Lampung, menuju Jakarta.

“Kami sampai di Jakarta subuh, langsung menuju GBK untuk bertemu teman-teman, menunggu dimulainya kampanye besar,” kata Aditya.

Semeton Prabowo atau “Saudara Prabowo” dalam bahasa Indonesia adalah komunitas keturunan Bali pendukung Prabowo-Gibran dan berdomisili di beberapa tempat khususnya di Bali, Lampung, dan Sulawesi Selatan. Komunitas beranggotakan 45 orang itu berkumpul di GBK sejak Sabtu pagi.

Saat berpartisipasi dalam kampanye besar, seseorang tidak hanya ingin merasakan langsung suasana kampanye, namun juga berbagi secara virtual dengan pendukung yang tidak bisa hadir.

“Kami menyebarkan informasi tentang Pak Prabowo melalui media sosial dan juga melalui media lokal yang kami kelola. Melalui media strike, kami juga melawan dan menghapus berbagai berita bohong yang beredar tentang Pak Prabowo,” kata Aditya.

Mereka telah melakukan hal yang sama sejak tahun lalu. Masyarakat pemilih Presiden Joko Widodo pada Pilpres 2014 dan 2019 menilai Prabowo merupakan sosok yang tepat untuk melanjutkan berbagai program pembangunan yang digagas Jokowi. Oleh karena itu, mereka siap dengan inisiatif dan pendanaan mandiri untuk mempromosikan karakter dan pemikiran yang dibawa Prabowo pada Pilpres 2024.

Menjelang pencoblosan, lanjutnya, juga akan diperkuat upaya untuk mengoreksi pemberitaan tentang Prabowo-Gibran.

Prabowo Oleh karena itu, diharapkan masyarakat tidak ragu lagi memilih pasangan calon nomor urut 2, sehingga tujuan memenangkan Pilpres 2024 dalam satu putaran dapat tercapai.

Selain anggota Semeton Prabowo, Zahra Aulia Putri (23), warga Lubang Buaya, Jakarta Timur, mengajak generasi milenial dan generasi Z untuk berpartisipasi langsung dalam Kampanye Hebat Prabowo-Gibra.

Dari hasil pengorganisasian di media sosial, ia mengumpulkan 250 pendukung Prabowo-Gibran untuk ikut bersama. Bahkan, mereka menginap di hotel di kawasan Senayan Jakarta dengan biaya sendiri untuk menghindari kendala teknis sesampainya di kawasan GBK.

Menurut Zahra, pasangan Prabowo-Gibran merupakan pasangan yang patut diperjuangkan karena memiliki gagasan dan program yang jelas bagi generasi muda dalam visi dan misinya. Hal ini diperkuat dengan kehadiran Gibran yang mewakili generasi muda. “Dari tiga pasangan yang ada, Prabowo-Gibran yang paling mendukung karena membuka banyak ruang bagi generasi muda,” ujarnya.

Sebelum mengikuti kampanye besar, Zahra juga aktif terlibat di komunitas pendukung Prabowo-Gibran. Dari komunitas ke komunitas, ia juga aktif mempromosikan program dan topik yang berkaitan dengan generasi muda. Menurutnya, hal ini penting untuk menunjukkan keseriusan dukungan yang diberikan pemuda kepada Prabowo-Gibrani.

Selain Zahra dan Aditya serta komunitasnya masing-masing, menurut Prabowo, ada 600.000 orang yang berada di stadion utama GBK saat ia memberikan pidato politik kepada pendukungnya. Jumlah tersebut melebihi ekspektasi dan perkiraan Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibra.

Kelompok kampanye hanya menargetkan 200.000 orang. Sekitar pukul 09.00 pagi mereka bergegas menuju tempat kampanye besar tersebut. Karena kepentingan tersebut, penampilan politik Prabowo dalam kampanye besar yang seharusnya dimulai pukul 15.00 itu dimajukan menjadi pukul 14.00.

Pasalnya, sejak pagi suporter menyerbu kawasan GBK seolah tak sabar menunggu kampanye. Itu juga berspekulasi untuk bersaing dengan Big No. Kampanye Anies Baswedan-Muhaim Iskandar nomor satu yang juga digelar di Jakarta, yakni di Jakarta International Stadium (JIS).

Suko Widodo, dosen komunikasi politik Universitas Airlangga Surabaya, Jawa Timur, angkat bicara soal kesediaan para pendukung capres dan cawapres untuk ikut kampanye besar-besaran, meski harus datang dari jauh dan membawa barang. sangat besar. pengeluaran .

Berasal dari perasaan cinta yang menimbulkan kebutuhan untuk berkumpul dengan orang-orang yang memiliki perasaan yang sama.

Tak hanya di kalangan pendukung pasangan Prabowo-Gibran, hal serupa juga terjadi pada pasangan lainnya yakni Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar yang berkampanye besar-besaran di JIS dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD yang terakhir menggelar kampanye besar di Solo dan Semarang Jawa Tengah. . Apalagi pendukungnya berasal dari daerah yang luas.

Namun Suko melihat tidak semua suporter bergerak dengan motivasi yang sama. Tidak dapat dipungkiri bahwa politik Indonesia masih bersifat transaksional.

Oleh karena itu, rambu-rambu angkutan umum dan tarik-menarik barang-barang material tidak bisa dihindari. “Mobilisasi ini bisa dilakukan oleh calon legislatif (caleg) sendiri atau elite politik pada pemilu 2024,” ujarnya.

Terlepas dari motivasi pendukungnya, kehadiran langsung mereka dalam kampanye kilat dipandang sebagai penambah semangat dan penambah kepercayaan diri para kandidat. Hal ini penting mengingat kontroversi presiden yang memanas menjelang hari pemilu.

Selain itu, kehadiran pendukung dapat memberikan tambahan pengaruh politik bagi kandidat di masa tenang. Sebab, sepulang dari halaman kampanye besar-besaran, mereka cenderung berbagi pengalaman dan bercerita tentang keunggulan kandidat yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri.

Leave a Comment