Demikian tanggapan Kapolres terhadap kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan aparat Polres Tanjungpinang terhadap perempuan mereka.

Kapolres Tanjungpinang Kompol Heribertus Ompusunggu mengaku mendapat laporan adanya dugaan kekerasan dalam rumah tangga di kalangan anggotanya. Dia mengatakan, kasus tersebut kini ditangani Propam dan Satuan Reserse Kriminal Polres Tanjungpinang.

“Iya, sudah kami pantau dan sudah ditangani Propam. Kemarin sudah saya informasikan ke Propam,” kata Heribertus, Kamis (18/1/2023).

Heribertus mengatakan, atas kejadian tersebut ia juga memperingatkan karyawannya untuk tidak menggunakan kekerasan. Ia mengatakan, semua masalah ada solusinya tanpa kekerasan.

“Saya juga mengatakan bahwa ada solusi untuk setiap masalah, bukan hanya masalah fisik,”; dia berkata.

“Oleh karena itu, bisa saja ada tanda-tanda meninggalkan bekas luka, kemudian dilakukan visum dan tetap berdasarkan pasal-pasal KUHP,”; dia menambahkan.

Heribertus menjelaskan Propam Polresta akan melakukan pengadilan etik terhadap anggota polisi yang kemudian melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Pelaku kejahatan masih diadili, dan dia tidak menutup kemungkinan bahwa hak untuk memulihkan situasi yang adil akan berakhir jika kedua belah pihak sepakat untuk berdamai.

“Sidang kode etik dan disiplin, bisa dihukum, tapi kalau perempuan itu mencabut laporannya, kami akan mendapatkan RJ”; dia berkata.

Mantan anggota polisi berpangkat brigadir berinisial PAZ diduga melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istrinya berinisial TT. Pelaku diduga memukul, menendang, mencekik dan mengancam akan membunuh istrinya.

Menurut kuasa hukum korban, Agung Ramadhan Saputra, peristiwa dugaan kekerasan dalam rumah tangga itu terjadi pada Minggu (14.01) pagi. Kejadian bermula saat korban mendapat pesan WhatsApp dari pelaku yang sebenarnya ditujukan kepada perempuan lain.

Setelah polisi kembali ke rumah, terjadi perkelahian antara seorang pria dan seorang wanita. Pelaku menendang, mendorong korban hingga terjatuh, kemudian pelaku mencekik korban lalu mengambil pisau dan mengancam akan membunuh korban.

“Jangan biarkan aku membunuhmu, begitulah kata-kata yang diucapkan pelaku sambil menodongkan pisau ke arah korban,” ujarnya.

Menurut Agung, sangat disayangkan kekerasan yang dilakukan PAZ dilakukan di depan anaknya yang berusia kurang lebih 2 tahun. Usai kejadian, pelaku langsung keluar rumah.

“Jadi korban atau klien kami dan saudaranya sedang mencari lokasi pelaku. Saat itu, pelaku ditemukan di kos bersama perempuan lain,” ujarnya.

“Saat menabrak PAZ, korban mencatatnya, kemudian pelaku mengambil ponsel korban dan merusaknya,” ujarnya.

Agung menjelaskan, usai kejadian tersebut, korban dan keluarganya langsung melapor ke Polsek Tanjungpinang. tercantum dalam laporan polisi: LP/B/5/I/2024/SPKT/POLRESTA TANJUNGPINANG/POLDA KEPRI.

“”Dilaporkan pada Minggu (14 Januari). Laporan klien kami kini sudah sampai ke Bareskrim Paminal dan Unit PPA. Korban dan saksi dimintai keterangan mengenai kejadian tersebut,” katanya,

.

Leave a Comment