Mendengarkan! Keputusan Penuh BI Mempertahankan Suku Bunga Acuan Sebesar 6 Persen

Dewan Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuan BI sebesar 6 persen. Dengan demikian, sejak Oktober 2023, BI mempertahankan suku bunga acuannya selama empat bulan berturut-turut.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, keputusan ini diambil sebagai langkah penting untuk menjaga stabilitas perekonomian dan keuangan BI di tengah ketidakpastian perekonomian global. Tahun ini, sejalan dengan upaya menjaga pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

“Keputusan untuk mempertahankan BI rate sebesar 6,00% tetap sejalan dengan fokus kebijakan moneter yang pro stabilitas, yaitu memperkuat stabilisasi nilai tukar rupee dan mengambil langkah-langkah proaktif dan berwawasan ke depan untuk memastikan bahwa inflasi tetap terkendali. Targetnya 2,5±1% pada tahun 2024,” kata Perry dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI di Jakarta, Rabu (17 Januari 2024).

Perry menjelaskan kebijakan moneter masih perlu merespons ketidakpastian global, seiring pertumbuhan ekonomi global yang terus melambat meski ketidakpastian pasar keuangan sudah mereda. Pada tahun 2023, perekonomian global diperkirakan tumbuh sebesar 3,0% dan pada tahun 2024 melambat menjadi 2,8%.

Menurut dia, perekonomian Amerika Serikat (AS) dan India masih kuat ditopang oleh konsumsi dalam negeri dan investasi. Namun, perekonomian Tiongkok, salah satu mitra dagang terpenting Indonesia, melambat karena konsumsi domestik dan investasi masih lemah akibat melemahnya kinerja sektor real estate dan terbatasnya stimulus fiskal.

Inflasi di negara-negara maju, termasuk Amerika Serikat, masih berada pada level moderat meski berada di atas target, sedangkan inflasi di Tiongkok melambat akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi. Menurut dia, siklus kenaikan suku bunga kebijakan moneter di negara-negara maju, termasuk Fed Funds Rate (FFR) AS, telah berakhir, meski pada paruh pertama tahun 2024 masih tetap tinggi dan tidak menutup kemungkinan akan dimulai. Pada paruh kedua tahun 2024.

Imbal hasil Treasury di negara-negara maju, termasuk US Treasury, telah turun secara bertahap tetapi tetap pada tingkat yang tinggi sejalan dengan pembiayaan pajak premi risiko jangka panjang (period premium) dan utang pemerintah AS. Tekanan terhadap apresiasi dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia juga berkurang.

Di sisi lain, ia menegaskan masih terdapat beberapa risiko global yang perlu dikendalikan ke depan, karena dapat berdampak pada ketidakpastian perekonomian dunia, seperti ketegangan geopolitik yang masih berlangsung, pelemahan perekonomian di beberapa negara utama, misalnya. Cina. dan kepastian mengenai waktu dan tingkat suku bunga. negara maju, khususnya FFR.

Di Finlandia, menurutnya, prospek pertumbuhan ekonomi sebenarnya masih bagus dan trennya harus dipertahankan. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2023 akan tetap berada pada angka 4,5-5,3% dan didorong oleh konsumsi dan investasi, karena belanja sektor pemerintah akan meningkat pada akhir tahun dan selesainya beberapa proyek strategis negara ( PSN). untuk mempercepat Pada tahun 2024, pertumbuhan ekonomi akan meningkat antara 4,7-5,5%.

“Permintaan dalam negeri terutama akan ditopang oleh berlanjutnya pertumbuhan konsumsi, termasuk dampak positif pemilu, serta peningkatan investasi, terutama seiring dengan terus dikembangkannya PSN, termasuk Ibukota Negara Republik Indonesia (IKN)”; kata Perry.

Diakuinya, salah satu faktor pendorong pertumbuhan, yakni perkembangan ekspor, tidak akan menguat akibat resesi global dan anjloknya harga komoditas. Namun, ia mengingatkan surplus perdagangan pada Desember 2023 masih berlanjut sebesar $3,3 miliar karena kinerja ekspor komoditas utama Indonesia seperti batu bara dan besi dan baja yang tetap kuat.

“Perkembangan ini mendukung transaksi berjalan tetap sehat pada tahun 2023, dengan proyeksi surplus sebesar 0,4 persen dan defisit sebesar 0,4 persen terhadap PDB,”; Perry menekankan.

Nilai tukar rupiah relatif stabil hingga 16 Januari 2024, meski sempat melemah 1,24% pada akhir Desember 2023. Nilai tukar rupiah relatif lebih baik terhadap mata uang regional lainnya seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, dan mata uang Asia Tenggara. Won Korea yang turun masing-masing sebesar 1,95%, 2,82% dan 3,24%.

Sementara itu, inflasi melambat menjadi 2,61 persen (joy) pada Desember 2023 dari 5,51 persen (joy) pada tahun lalu. Pemerintah juga meyakini inflasi akan tetap rendah pada tahun 2023, sejalan dengan target 2,5 persen plus atau minus 1 persen, dibandingkan target tahun 2023 sebesar 3 persen plus atau minus 1 persen.

“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat kebijakan moneter yang mendukung stabilitas dan sinergi politik dengan pemerintah untuk memastikan inflasi sebesar 2,5±1% pada tahun 2024,”; kata Perry.

Di antara berbagai kondisi tersebut, ia juga menegaskan, selain menjaga kebijakan moneter di angka 6 persen, BI juga akan terus memperkuat stabilisasi rupee dengan melakukan intervensi pada transaksi spot, domestic non-deliverable di pasar valuta asing. Kontrak Berjangka (DNDF) dan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Setelah itu, strategi kebijakan moneter yang ramah pasar akan diperkuat untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter, antara lain optimalisasi Surat Berharga Bank Indonesia Rupiah (SRBI), Surat Berharga Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Bank Indonesia Valas Asing (SUVBI). ). ). ). Selain memperkuat transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK), fokusnya adalah pada suku bunga kredit berdasarkan sektor ekonomi.

Percepatan digitalisasi sistem pembayaran dan perluasan kerja sama antar negara untuk mendorong inklusi keuangan dan perluasan ekonomi keuangan digital (DEF) akan terus dilakukan melalui sinergi untuk memperluas inisiatif digitalisasi sistem pembayaran.

Terakhir, memperkuat dan memperluas kerja sama internasional dengan bank sentral dan otoritas negara mitra, khususnya di bidang perbankan sentral, termasuk mempercepat koneksi pembayaran dan transaksi mata uang lokal (LCT) serta mendorong investasi, perdagangan dan pariwisata bekerja sama dengan instansi terkait di wilayah prioritas..

Leave a Comment