Harapan warga pesisir Surabaya bergantung pada pariwisata dan pesona alam

Surabaya – Pesisir pantai Surabaya kini menjadi salah satu tempat wisata alam paling populer di kota heroik tersebut. Tempat wisata pantai Surabaya ini memanjang ke arah barat laut Surabaya. Wisata pantai dapat ditemukan di Kenjeran di utara, sedangkan di Romokalisar di barat Surabaya.

Di balik keindahan alam pantai yang ditawarkan kepada pengunjung, tampaknya masih perlu mendapat perhatian dari pemerintah kota Surabaya. Persoalan ini bukan hanya soal peningkatan potensi wisata, tapi juga kesejahteraan warga sekitar, warga pesisir pantai. Masyarakat pesisir tidak lagi hanya sekedar kelompok yang tinggal di pesisir pantai saja, namun hampir semuanya juga mendapatkan penghasilan rupee di sana.

Warga menyampaikan keinginannya kepada Wali Kota Surabaya Eri Cahyad. Keinginan para penghuni pantai bukan sekedar angin kosong, namun menyampaikan keinginan tersebut demi kebaikan dan kesejahteraan bersama, termasuk kenyamanan pengunjung.

1. Penyedotan lumpur dan pemecah gelombang
Nelayan asal Pesisir Utara Surabaya atau Pesisir Kenjeran menyampaikan keluh kesahnya selama ini. M. Mahfud, Ketua KUB Sekarwang di Kumpat RW 2 Kelurahan Kedung Cowek, mengatakan permasalahan terbesar yang dihadapi nelayan adalah pencegahan penangkapan ikan karena laut penuh lumpur.
“Saat ini tidak adanya lumpur menghalangi aktivitas sehari-hari di akses jalan nelayan, kini para nelayan mengeluh karena lumpur menggenang terlalu tinggi,” kata Mahfud saat ditemui detikJatim, Selasa (12/12/2023).

Sebelumnya Presiden Jokowi dan Gubernur Provinsi Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sempat bercerita mengenai kendala yang dihadapi kelompok nelayan ini. Namun permintaan kelompok nelayan tersebut hingga kini belum terlaksana. – Kemarin saya lapor langsung ke provinsi dan Pak Jokowi, lumpur ini membuat nelayan tidak bisa keluar masuk, karena air tidak bisa langsung mengalir. Kedua, kadang di bulan-bulan tertentu bu, ada ombak besar, makanya kalau Pak Jokowi datang ke sini, kami bilang, lumpurnya harus disedot dulu, kedua, dilakukan penerobosan yang dilakukan oleh Pak Jokowi sendiri, lalu. Saya kirim dari tim PU, tapi belum dilaksanakan, dimana?” dia menjelaskan.

Ia mengatakan, permasalahan tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya, ombak besar juga menghambat aktivitas penangkapan ikan para nelayan. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Dr Rismaharin, tak kurang dari 43 kapal nelayan hancur diterjang ombak besar. Untungnya, kapal mereka segera diperbaiki.
“Tadi di masa Bu Risma, ada 43 perahu yang dirusak ombak. Alhamdulillah Bu Risma cepat turun dan semuanya baik-baik saja,” ujarnya.

2. Bantuan yang konsisten kepada kelompok nelayan

Kelompok nelayan Kenjeran juga berharap Wali Kota Eri Cahyadi bisa mengusut bantuan dana untuk kelompok nelayan. Dulu Kemensos menyalurkan bantuan. Namun, Mahfud mengungkapkan bantuan tersebut tidak disalurkan secara merata kepada seluruh nelayan binaannya.

“Kemarin ada beberapa KUB di Surabaya yang minta bantuan Kemensos. Kemensos tidak menerima semua anggota KUB. Di KUB saya ada 65 anggota yang mendapat 10, kenapa yang lain tidak mendapat 10?” ayo apakah bantuan itu disalurkan secara merata?” jelas Mahfud. Ia berharap bantuan ini dapat diberikan secara adil. Selain itu, menurutnya, bantuan dapat dibagi dalam beberapa gelombang berbeda agar bantuan merata.

“Harapan saya semua dapat sama, tapi pengurangannya 10 (hanya 10 anggota dari total 65 yang dikurangi). Harapan saya bisa ada gelombang kedua, gelombang ketiga, sehingga bisa terjadi. . didistribusikan secara merata,” ujarnya.

Leave a Comment